||| Assalamualaikum Wr, Wb. ||| Selamat datang ke blog saya ini ||| Semoga ada manfaat yang dapat anda peroleh |||

Minggu, 09 Mei 2010

Mengecek dan Memperbaiki Dead Pixel Monitor LCD

Bagi pengguna monitor LCD, setelah penggunaan LCD beberapa lama, terkadang muncul titik di layar yang tidak bisa menampilkan warna dengan baik. Titik di layar monitor tersebut hanya terlihat [menyala] sama saja ketika tampilan monitor berubah-ubah sekalipun. Sehingga sering mengurangi kualitas tampilan.
Titik di layar yang rusak tersebut biasa disebut dengan Dead Pixel atau juga Stuck Pixel. Bagaimana cara mengetahuinya, dan jika muncul, adakah cara memperbaikinya ?

Mengetahui/Mengecek adanya Dead Pixel

Pada intinya untuk mengecek keberadaan Dead pixel cukup mudah, terkadang kita bisa langsung melihat di layar monitor, karena warna titik pixel yang selalu sama dengan tampilan layar/gambar monitor apaun. Atau dengan membuat gambar penuh satu layar dengan satu warna saja, misalnya hitam atau putih. Dengan begini jika ada dead pixel akan jelas terlihat.
Jika ingin menggunakan software (plus fitur tambahan), salah satunya bisa menggunakan program gratis PixelRepairer. Software ini mempunyai beberapa fitur, antara lain:
  • Membantu menemukan dead pixel
  • Mempu membantu memperbaiki dead pixel
  • Perbaikan dead pixel bisa dijalankan tanpa harus berhenti bekerja dengan komputer
  • Tidak memerlukan installasi (portable)
  • Dapat menangani berbagai monitor yang terpasang di komputer

Mencari Dead Pixel

Untuk menemukan adanya dead pixel dengan software ini, ikuti beberapa langkah berikut :
  1. Bersihkan monitor
  2. Jalankan PixelRepairer
  3. Jika tombol search tidak aktif, aktifkan dengan klik tombol Search, yang ada gambar loop, kiri paling atas
  4. Jika lebih dari satu monitor yang terkoneksi, pilih salah satu
  5. Pilih salah satu warna di daftar warna (Pattern)
  6. Klik tombol Enable, sehingga tampilan monitor berubah satu warna atau satu pola.
  7. Periksa layar monitor, jika ada titik/pixel yang mempunyai warna selain warna yang dipilih, berarti terdapat dead pixel di monitor
  8. Untuk keluar, klik kanan layar atau tekan tombol keynoard ESC
Jika dead pixel ditemukan di layar monitor, ingat posisinya sehingga bisa di lakukan langkah perbaikan berikut.

Perbaikan Dead Pixel

Ketika di monitor ditemukan dead pixel atau pixel rusak, bisa dicoba untuk melakukan perbaikan dengan software diatas. Langkahnya sebagai berikut ( langkah berikut dijalankan jika langkah Mencari Dead Pixel sebelumnya sudah dijalankan dan dead pixel sudah di ketahui lokasinya):
  1. Jalankan PixelRepairer
  2. Klik tombol Repair (tombol/gambar kedua dari atas)
  3. Tambahkan area perbaikan, dengan klik tombol Add, sehingga akan muncul kotak kecil yang disebut “Repairer”. Ukurannya bisa kita sesuaikan dengan menggeser opsi size di bagian bawahnya.
  4. Drag atau geser kotak kecil “Repairer” ke posisi dimana terdapat dead pixel
  5. Pilih mode operasi: noise atau solid. Jika noise tidak berhasil, coba lagi dengan memilih opsi solid.
  6. Pilih ukuran perbaikan, harus mencakup area yang terdapat dead pixel
  7. Set Frequency sama dengan frekuensi monitor. Jika tidak diubah, biasanya frekuensinya 60Hz
  8. Jika Dead pixel terdapat di beberapa tempat, tambahkan Area “Repairer” lainnya
  9. Minimize window program ini
  10. Tunggu sekitar satu jam. Bisa sambil menggunakan komputer seperti biasa.
Terkadang kerusakan pixel bersifat permanen, karena sudah cukup parah sehingga tidak bisa di perbaiki lagi. Sehingga software ini tidak menjamin selalu 100% berhasil. Selain bisa digunakan untuk monitor LCD, bisa juga digunakan untuk Plasma TV Pixel. Software ini berjalan di sistem operasi Windows dan lisensinya Freeware (gratis). Download PixelRepairer_2.0.0.zip (754 KB) atau versi 7zip PixelRepairer_2.0.0.7z (560 KB)

Copy-paste by Mr. Suyadi ATB MANPS From:
http://ebsoft.web.id/2010/04/28/mengecek-dan-memperbaiki-dead-pixel-monitor-lcd

Kamis, 29 April 2010

11 Syarat Menjadi Blogger Profesional

Bagi sebagian orang, ngeblog dijadikan sebagai profesi untuk mencari uang. Mereka adalah para blogger profesional. Diukur dari sisi penghasilan, tentunya blogger profesional jauh lebih banyak penghasilannya daripada blogger amatir.
Coba Anda bandingkan pesepak bola profesional dengan pesepak bola amatir. Tentu pesepakbola profesional lebih besar penghasilannya daripada pesepak bola amatir. Nah, jika Anda tertarik menjadi blogger profesional,11 syarat ini harus Anda ketahui.
1.Waktu. Blogger profesional harus memiliki waktu mengelola blognya. Bukan hanya penting untuk membuat postingan bagus, waktu juga penting untuk berinteraksi dengan blogger lain, mengumpulkan informasi, melakukan riset online, blog walking, dan sebagainya.
Kok bisa ShoeMoney ngeblog hanya kurang 1 jam tiap harinya, sementara penghasilannya ratusan ribu dolar per bulannya? Menurut saya, ini karena jam terbang. Saya yakin saat pertama merintis karirnya dia menghabiskan banyak waktu untuk mengelola blognya.
2. Keahlian. Blogger profesional harus memiliki keahlian (kepakaran) di topik yang dipilihnya. Misalnya, bila ia memilih topik afiliasi, maka dia harus ahli di bidang tersebut. Selain dipercaya pembacanya, ia juga punya autoritas di bidang tersebut. Yang perlu dicatat, keahlian ini hasil dari belajar berkesinambungan (continuous learning).
3. Minat terhadap topik yang dipilih. Dengan minat, semua aktivitas akan menyenangkan.
4. Kemampuan menulis. Blogger profesional harus memiliki kemampuan menulis yang baik dilihat dari tata bahasa, alur cerita tulisan, dan kemudahan tulisannya dimengerti pembaca. Kemampuan ini tidak harus sebaik sastrawan atau pujangga, minimal tulisannya dipahami pembaca.
5. Pengetahuan teknis ngeblog. Disukai atau tidak, blog itu berbasis content management software. Blogger profesional harus memiliki kemampuan dasar mengenai database, transfer domain, script, plugin, dan lain-lain.
6. Pengetahuan ngeblog. Blogger profesioanal harus tahu dasar-dasar ngeblog antara lain bagaimana menggunakan trackback, ping, SEO, social bookmarking, twitter, RSS feed, face book, podcast, you tube, dan autoresponder.
7. Kemampuan mendesain blog. Desain blog sangat penting terhadap kesuksesan blog. Tentunya konten adalah rajanya. Namun, desain blog yang unik, cepat diakses, dan sistem navigasi yang informatif, akan membuat kesan pertama yang menggoda bagi pengunjungnya. Oleh karena itu, blogger profesional sudah selayaknya mengetahui dasar-dasar HTML, CSS, dan optimisasi blog.
8. Pengetahuan bisnis/marketing. Blogger profesional harus memiliki kemampuan bisnis dan cara memasarkannya. Semakin baik memasarkan blog atau produknya, semakin besar peluang mendapat trafik dan uang. Secara sederhana, blogger profesional harus punya pola pikir pebisnis.
9. Kreatif dan Inovatif. Kreatif artinya memiliki daya cipta, sementara inovatif adalah menemukan hal baru. Kreatif dan inovatif akan membuat blogger profesional mampu membuat tulisan berkualitas, menemukan cara baru untuk mempromosikan blog atau produk, dan menemukan cara baru monetisasi.
10. Memiliki jaringan (network). Prinsip sederhananya, blogger profesional memiliki hubungan baik dengan blogger lain. Terlebih hubungan baik dengan blogger papan atas. Tentunya, hubungan ini bersifat win-win solution (tidak ada yang dirugikan).  Update: lihat Cara Membangun Networking yang Salaing Menguntungkan.
11. Kemampuan berkomunikasi. Blogger profesional setidaknya mengerti bahasa Inggris karena postingan bermutu dari blogger top yag ditulis dalam bahasa Inggris atau mungkin saja berinteraksi dengan blogger luar negeri.
Wah, ternyata banyak juga ya syarat menjadi blogger profesional. Bila memungkinkan, dalam 5 tahun ke depan saya juga ingin menjadi blogger profesional. Selain bisa tinggal di kota besar yang koneksi internetnya baik, saya juga bekerja untuk diri sendiri. Saya karyawannya, saya juga bosnya.
Namun, untuk saat ini, saya memilih dulu menjalani pekerjaan sekarang sebagai karyawan karena beberapa pertimbangan. Bagaimana dengan Anda, apakah ada keinginan menjadi blogger profesional?

Copy-paste by Mr. Suyadi ATB MANPS From:
http://www.blogodolar.com/syarat-menjadi-pengeblog-profesional

Selasa, 13 April 2010

Jangan tersenyum kepada orang buta Jangan berbisik kepada orang tuli.

Jangan Tersenyum kepada Orang Buta

Oleh Eko Prasetyo

Dua kalimat tersebut saya simak dari seorang dai terkenal di forum pengajian. Dua kalimat tersebut dilontarkan sebagai perumpamaan tentang hal yang mubazir. Saya lebih menganggapnya sebuah pesan mendalam. Yakni, konsisten.

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) edisi IV (2008), konsisten masuk dalam kelas kata sifat. Ada dua pengertian. 1. tetap (tidak berubah-ubah); taat asas; ajek. 2. selaras; sesuai: perbuatan hendaknya -- dng ucapan.

Berkaitan dengan konsisten, negeri yang ”katanya” gemah ripah lohjinawi ini mengalami krisis moral yang begitu akut. Salah satunya, tumbuh suburnya sifat tidak konsisten alias inkonsisten. Contohnya cukup banyak. Sebut saja, kasus Gayus Halomoan Tambunan. Pegawai golongan III A itu terseret kasus makelar kasus (markus) di Direktorat Jenderal (Ditjen) Pajak. Negara dirugikan puluhan miliar rupiah. Diinkasi, kasus semacam ini sudah ”membudaya” di instansi tersebut. Ironis!

Saya sangat prihatin sekaligus geram dengan mencuatnya kasus itu, yang diekspos besar-besaran oleh media. Slogan ”Orang Bijak Taat Pajak” seakan-akan dikebiri oleh koruptor macam Gayus. Kegeraman itu mungkin juga dirasakan oleh banyak wajib pajak lainnya. Wajar jika kasus tersebut memunculkan plesetan ”Orang Pajak Makan Pajak.”

Tak bisa dimungkiri, kasus Gayus bisa jadi hanya ”kelas teri”. Seorang jurnalis senior dan pengamat ekonomi bahkan pernah mengatakan bahwa mungkin saja ada kasus semacam Gayus yang dapat dikatakan ”kelas hiu”, bahkan ”kelas paus”.

Kasus Gayus sebenarnya merupakan tamparan telak bagi pemerintah. Betapa tidak, pemerintah bisa disebut gagal dalam mengemban amanah rakyat: konsisten. Baik konsisten dengan janji saat kampanye pilpres maupun janji memberantas habis korupsi.

Konsisten seolah menjadi endemi di negeri yang ”katanya” kaya dan subur makmur ini. Ketika banyak orang berlomba-lomba untuk mencalonkan diri sebagai pemimpin, mereka menawarkan aroma sedap kampanye: konsisten dalam memegang komitmen.

Sayang, tak ada hitam di atas putih alias tak ada surat kontrak janji. Andai itu ada dan diberlakukan, kita sebagai rakyat tentu bisa menagih konsisten yang pernah ditawarkan saat kampanye, baik pilpres maupun pilkada. Yang ada saat ini adalah banyak pemimpin berusaha ngeles alias mencari-cari alasan untuk menjaga image.

Sebuah pelajaran mungkin bisa diambil dari kisah khalifah Umar bin Khattab. Dia dikenal sebagai pemimpin yang jujur dan mau turba (turun ke bawah) untuk melihat kondisi riil rakyatnya.

Dalam suatu kisah mahsyur, Umar diceritakan pernah memanggul gandum untuk diberikan kepada wanita yang anaknya kelaparan. Wanita itu memasak batu dalam kuali untuk menenangkan anaknya yang menangis karena lapar yang amat sangat. Kejadian tersebut diketahui Umar.

Hati kecil Umar sebagai pemimpin gerimis melihat pemandangan itu. Dia bersikap gentle dan konsisten dengan tanggung jawabnya sebagai khalifah. Dia berjalan puluhan kilometer menuju rumahnya tanpa diketahui pengawalnya. Dia merasa telah berkhianat jika tak membantu wanita dan anaknya yang lapar tadi. Maka, Umar memanggul karung berisi gandum untuk diberikan kepada wanita tadi.

Ketika melihat wanita tadi memasak gandum dan melihat anaknya makan dengan lahap, Umar sedih dan terharu. Dia berkata bahwa tugas sebagai pemimpin sangat berat. Sebab, seorang pemimpin harus tahu dan peka tentang apa yang dialami oleh rakyatnya.

Maka, ketika Abdullah bin Umar, putra Umar bin Khattab, hendak dicalonkan sebagai pemimpin, Umar dengan tegas menolaknya. ”Cukup satu Umar saja dalam keluarga ini yang menjadi pemimpin. Sebab, tugas pemimpin itu sangatlah berat,” ucap Umar.

Peristiwa tersebut memang telah terjadi ratusan abad yang lampau. Namun, pengalaman Umar itu hendaknya bisa dijadikan cermin tentang pentingnya menjaga sikap konsisten. Terutama, konsisten dengan tugas dan tanggung jawab.

Kasus Gayus bisa dijadikan pelajaran untuk anak didik kita. Setidaknya, kita bisa meramu konsisten sebagai obat mujarab guna menjauhkan diri dari penyakit kronis berbahaya yang bernama korupsi.

Saya berangan-angan, kalau saja pemimpin kita mau bersikap konsisten, tentu kasus Bank Century, kasus Gayus, dan kasus serupa lain tidak akan menjadi benang kusut yang sulit diurai.

Maka, benarlah pesan yang terkandung kalimat jangan tersenyum kepada orang buta dan jangan berbisik kepada orang tuli. Rupanya, kita secara tidak sadar (atau sadar?) kerap melakukan dua hal tadi. Bahaya!