Beberapa
hari yang lalu aku mengurus keperluan administrasi berupa berkas untuk
mengajukan permohonan untuk mendapatkan bantuan/tunjangan gubernur.
Setelah urus ini itu, aku duduk beristirahat sambil berbincang dengan
staff TU di tambah beberapa mahasiswa yang sedang menjalankan KKU
(kuliah kerja usaha) dari suatu Universitas di kota Pematangsiantar.
Beberapa orang diantaranya ternyata adalah muridku sewaktu mereka masih
duduk di bangku aliyah.
Saat aku sedang duduk sembari
berbincang ringan dengan murid2ku, aku memecah kekakuan dengan sekedar
mengajukan beberapa pertanyaan ringan tentang ini dan itu. Tiba-tiba
salah seorg staff TU bertanya, yg kira-kira begini bunyinya “kenapa
bapak gak nerima pertemananku di FB, apa karena ada fotoku gak pakek
jilbab ya?”. Jawabku “iyakah? Maaflah, bapak buat gitu di FB dalam
rangka mendidik, baik bagi murid aktif maupun yang udah alumni, maaf
ya”. “Ish.. gitu kali bapak sama aku, janganlah gitu”,”sekali lagi maaf
ya, bapak hanya bermaksud mendidik di FB, soalnya mayoritas teman bapak
di FB adalah murid-murid bapak, kalo mau berteman di FB dengan bapak,
ikutilah ketentuan itu”.
Lalu aku pun menjelaskan sejauh
pengetahuanku tentang seperti apa dan apa hikmah terkait pakaian yang
memenuhi syari’at agama bagi seorg wanita. Muslimah, demi kehormatan
dan kebaikan serta sebagai wujud dari kepatuhan menjalankan aturan agama
maka berpakaian sesuai syari’at adalah suatu keniscayaan. Jilbab
hendaknya lebar, besar, tidak tipis dan tidak dibelitkan gak karuan.
Lalu baju dan rok maupun celana hendaklah longgar, tidak tipis dan tidak
ketat serta tentunya harus menutup aurat.
Mendengar
penjelasanku, staff TU memprotes “elleeehhh…, perempuan yang pakek
jilbab kan belum tentu juga masuk syurga”, benar sekali bhw jilbab tidak
menjamin seorang wanita itu masuk syurga, karena bisa saja jilbabnya
tdk sesuai kriteria dan atau akhlaknya buruk walau sudah berpakaian spt
itu, dan perempuan yg tidak berjilbab juga belum tentu masuk neraka,
karena boleh jadi perempuan itu masih kecil dan belum baliq, jadinya
belum sampai hukum syari’at padanya, tapi wanita yang tidak mau dan
menentang untuk mengenakan jilbab pasti berdosa dan nerakalah
balasannya. “Jadi pak, pakaianku dan jilbabku yg sekarang ini bagaimana,
udah pas?”. Dengan senyum kujawab “Belum kayaknya, jilbabnya masih
kecil dan dibelit2 gak karuan, bajunya juga masih menampakkan lekuk
badan secara nyata” (astaghfirullah, aku jadi memperhatikan, moga-moga
pahala puasa gak ludes).
Tanyanya lagi “trus pak, tidak
boleh ada foto yg berduaan dan atau berdekatan sama pacar juga masak
bapak jadikan persyaratan? Detail kali sampai kesitu, kami kan gak
sentuhan juga cuman pegangan tangan”. “Maaf ya bu, sekali lagi
sebenarnya itu saya tujukan kpd anak murid, kalo yg dah dewasa saya gak
berani lagi negurnya”, tambahku “Ibu, pacaran itu sendiri aja dilarang
dalam agama, selaian karena ikatan yg ada adalah semu, pacaran juga
adalah gerbang kepada perzinahan, makanya skrg semakin banyak aja org
yang pacaran lalu terpaksa dinikahkan walau masih anak
sekolahan/kuliahan karena keburu hamil duluan”, “Ibu, ketika kita
memajang foto yg tidak menutup aurat, berduaan dengan yg bukan mahram
dan memasang foto close-up yg memperilihatkan keindahan diri secara
detail dan ditambah kesan manja dan menggoda, lalu foto-foto itu dilihat
oleh orang yang tidak berhak, bukankah itu akan menimbulkan dosa bagi
yg meihatnya?”, “lalu, yg lebih buruk lagi, ketika seseorg itu
meninggal, sedang ia belum sempat menghapus foto-foto tadi, maka jadilah
foto-foto itu deposito dosa bagi si mati, dan itu akan terus terjadi
selama foto-foto itu belum dihapus, bagaimana hendak dihapus sementara
user id dan passwordnya dibawa mati, harapan satu-satunya adalah FB
tumpur dan tutup, lalu bagaimana lagi jika seandainya foto-foto itu
didownload lalu diupload ulang, sungguh tidak terbayangkan akibatnya”.
Ia terlihat setuju dan manggut2.
Lihatlah bagaimana perlakuan Allah pada seseorang ketika ia mendapat hidayah atau juga menyatakan keimanan? Allah SWT berfirman:
أَحَسِبَ
النَّاسُ أَنْ يُتْرَكُوا أَنْ يَقُولُوا آمَنَّا وَهُمْ لا يُفْتَنُونَ
وَلَقَدْ فَتَنَّا الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ فَلَيَعْلَمَنَّ اللَّهُ
الَّذِينَ صَدَقُوا وَلَيَعْلَمَنَّ الْكَاذِبِينَ
"Apakah
manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan, ‘Kami
telah beriman,’ sedang mereka tidak diuji lagi? Dan sesungguhnya Kami
telah menguji orang-orang yang sebelum mereka, maka sesungguhnya Allah
mengetahui orang-orang yang benar dan sesungguhnya Dia mengetahui
orang-orang yang dusta." (QS. Al-Ankabut [29] : 2-3)
Jelaslah
bhw Allah akan menguji keimanan hambanya, ujian itu untuk menunjukkan
siapakah yg imannya palsu, rapuh, lemah hingga yg kuat. Ujian juga
sebagai sarana untuk meningkatkan keimanan atau paling tidak sebagai
penyegaran, sebab bukan iman namanya jika tidak pernah melalui ujian.
Menurut hemat saya ujian itu ada dlm tiga bentuk: pujian, penentangan
dan ketidak pedulian. Contohnya seorg muslimah yg berpakaian sopan
menutup aurat, ia akan mendapatkan ujian berupa pujian, dengan begitu ia
bisa terbuai dan merasa paling baik sehingga menyebabkan ia mnjadi lupa
dan sombong. Lalu, jika penentangan dapat berupa cibiran dan ejekan:
“pakaian apa itu, pakaian kok sombro macam orang hamil”, dibilang juga
gak ada bentuknya sama sekali, gak seksi dan seterusnya. Tapi yang
paling berbahaya adalah ketidak pedulian atau situasi yg seolah tanpa
tantangan, tidak ada org yang memuji, mencela. Disitulah pendirian juga
akan diuji, apakah jika setelah tiada bahaya lalu merasa aman dan tak
perlu lagi menutup aurat? Camkanlah bhw kewajiban dijalankan bukan
karena dihadapan manusia, tetapi semata2 adalah wujud kepatuhan kepada
aturan Tuhan.
Rupanya pembicaraan ini juga disimak oleh
murid2ku yg udah tamat. Mereka mesam-mesem, tergelitik keinginanku utk
bertanya, “Eh, biasanya kalian yang anak kuliahan ini punya pacar kan?”.
Ada yg malu-malu raut wajahnya, ada yg senyum2 saja dan ada yang bilang
“gak punya pak”. “Gak punya itu kan bisa macam2, udah putus, belum laku
atau mmg gak mau pacaran?”, jawabnya enteng “udah pernah sih pak, tapi
udah putus”, “Syukurlah, berati kau saat ini selamat” jawabku, ia nya
sewot “ish bapak ini”. “Nah…! Kayaknya kau punya kan?” tanyaku pada
muridku yang satunya, “iya pak, tapi aku lagi bingung nih pak” jawabnya
sedih. Agaknya aku bakalan dengar curhatan nih, maklumlah murid sendiri,
biasanya guru dianggap dekat jadi tempat curhat yg tepat. Murid sering
kali berlebihan menilai, menganggap bahwa guru adalah sosok manusia yg
mendekati sempurna, celakanya adalah jika suatu ketika ia melihat
kekurangan yang ada pada gurunya ia menjadi kecewa sejadi-jadinya hingga
nasihat dan budi yg pernah diajarkan seolah tiada berpengaruh walau
memang tidak dilupa. Si anak lupa, bhw gurunya adalah manusia biasa
juga.
Mulailah dia bercerita ttg pacarnya yg mengajak
menikah karena sudah bertahun pacaran, namun ia sendiri dan orang tuanya
masih ingin menyelesaikan dulu kuliahnya yang tinggal satu tahun lagi,
tapi ia juga takut utk kehilangan si abang. Duh, kasus berat nih. “Nak,
sulit bagi bapak utk memberikan solusi karena kalian sendiri sedang
pacaran, sedang dalam kamus bapak tidak ada yg namanya pacaran, bukankah
dirimu tahu bahwa Islam melarang pacaran, islam memerintahkan kita
untuk tdk mendekati zina”.
Lanjutku “Tapi walaupun begitu
bapak akan coba memberi nasehat, setidaknya ini dapat sedikit
menenangkan hatimu, mintalah si abang bersabar, karena bagaimanapun
ridha orang tua sangat berpengaruh”. “Anggaplah dalam waktu satu tahun
ini adalah kesempatan bagi kalian untuk lebih bersiap-siap dan menambah
pengetahuan agama yang berkaitan dengan membangun rumah tangga”. “Ilmu
itu bisa kalian dapatkan dengan membaca buku-buku agama atau bertanya
dalam majelis ilmu agama terkait topik masalah munakahat/pernikahan”.
“Dan dalam kurun waktu satu tahun ini, hindarilah khalwat dan perjumpaan
yg tidak perlu, karena bapak khawatir syetan akan menjerumuskan
kalian”. “sibukkan dirimu dengan kegiatan positif agar kebingungan dan
kegelisahan itu tidak selalu hadir dan membuatmu makin tertekan, insya
Allah waktu satu tahun itu tidak akan lama”.
”Bapak tidak
menafikan bhwa pacaran itu mmiliki manfaat, tapi ketahui juga bhwa
mudharatny buanyak sekali, dan tidak sebanding sama sekali dengan
manfaatnya”. “Nak, pacaran adalah pintu gerbang perbuatan dosa, adanya
ikatan hati dan janji-janji yang diikrarkan melebihi kemampuan manusia
itu sendiri, dimana hanya Allah sendiri yg berhak menjanjikan yg spt itu
dan berkuasa memenuhi janji-janji itu”. “Pacaran dimulai dari membuka
hatinya padamu sehingga ketika hatimupun menginginkannya engkaupun akan
membuka pintu hatimu untuknya”, “lalu ia selanjutnya mmbuka tangannya
utk menggenggam tanganmu, lalu selanjutnya lagi mulailah dia membuka
ketiaknya dan engkaupun ada dalam rangkulan bahkan dalam pelukannya, dan
setelah itu pakaianmu pulalah yang akan dibukainya, naudzubillah
mindzalik”.
“Pacaran juga dapat menghalangi datangnya
rahmat Allah padamu, boleh jadi saat engkau berpacaran dengannya ada
lelaki lain yang baik akhlak, siap dan matang kepribadiannya datang
melamarmu, engkau menolaknya karena terlanjur ingin setia sama pacar yg
belum tentu ia akan jadi suamimu”, “Setahu bapak, biasanya org pacaran
itu sering bersikap yang bertolak belakang dari aslinya atau tidak
menunjukkan sikap aslinya, akhirnya sama-sama tertipu“
“Nak,
takutlah jika ada lelaki yang baik akhlaq dan agamanya lalu engkau
menolak dengan alasan yang tak ma’ruf, sebab sangat mungkin engkau akan
mendapat kesulitan dan bencana setelahnya, lelaki yang baik akhlaq dan
agamanya adalah anugerah, menolak anugerah berarti mengundang bencana,
lain halnya jika engkau mendapati bahwa akhlaqnya buruk”. “Tapi, nasehat
bapak ini bukan hanya utk perempuan, sebaliknya, jika ada wanita
baik-baik menawarkan diri untuk dinikahi maka hati-hatilah, jika
penolakannya berdasarkan alasan yang tak baik, itu tentu sama saja
menolak anugerah dan mengundang bencana”, “bapak bisa berbicara begini
karena bapak telah melakukan kesalahan di masa lalu, dan saat ini bapak
sedang menerima akibat dari kesalahan bapak, semoga Allah mengampuni
dosa bapak”.
Oleh karena itu, jagalah dirimu dan
kehormatanmu, ikutlah nasehat yang baik, jangan lagi menambah mengulang
dan menambah kesalahan yang sama. Tutuplah auratmu dengan pakaian yang
baik dan hindarilah pacaran.
“Iya pak, terimakasih ya pak
atas nasehatnya, besok saya minta nasehatnya lagi ya pak”, “Insya Allah
kalo ada waktu”, “Eh, ngomong-ngomong bapak sendiri kapan nikahnya?”,
Gubrakkkkk…! “ntahlah…!, hehehehe….”